Sejarah Konferensi Asia- Afrika yang Lahirkan Solidaritas Global

Perang Dingin baru saja diawali tidak lama sehabis Perang Dunia II berakhir. Kolonialisme lawas boleh jadi lenyap lama- lama, namun ditukar dengan neo- kolonialisme. Negeri komunis mulai kokoh. Negeri liberal- kapitalis juga tidak kalah kokoh. Negara- negara sisa koloni, yang baru saja merdeka, juga terancam jadi ajang pertarungan negara- negara kokoh.

Sebagian dari para pemimpin negeri di Asia serta Afrika siuman hendak bahaya Perang Dingin untuk mereka. Tercantum Presiden Indonesia Sukarno serta perdana menteri kala itu, Ali Sastroamidjojo. Dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat Sedangkan pada 23 Agustus 1953, Ali Sastroamidjojo menganjurkan berartinya kerja sama antara negara- negara Asia serta Afrika dalam perdamaian dunia.

Pada 25 April sampai 2 Mei 1954, Ali Sastroamidjojo penuhi undangan Perdana Menteri Srilangka Sir John Kotelawala. Ali berjumpa dengan sebagian pemimpin negeri yang lain dari Asia yang lain semacam Jawaharlal Nehru dari India, Mohammed Ali dari Pakistan, serta U Nu dari Birma. Indonesia, lewat Ali, menganjurkan diadakannya suatu pertemuan. Di akhir tahun, tepatnya pada 28- 29 Desember 1954, mereka berkumpul lagi di Bogor. Mereka merumuskan prakarsa kerja sama yang netral.

Indonesia mempersiapkan kota Bandung buat jadi tuan rumah pertemuan tingkatan besar. Gubernur Jawa barat kala itu, Samsi Hardjadinata, membentuk panitia lokal di Bandung pada 3 Januari 1955. Panitia lokal ini mengurusi akomodasi, transportasi, logistik, keamanan, Konferensi Asia Afrika penerangan, komunikasi, kesehatan, hiburan, serta yang lain. Panitia Interdepartemental pula dibangun pada 11 Januari 1955 oleh pemerintah pusat.

Gedung Concordia serta Gedung Dana Pensiun disiapkan bagaikan tempat konferensi. Hotel Preanger, Hotel Homman, serta 12 hotel yang lain dan 31 bungalow di dekat Lembang, Ciumbuleut, serta jalur Cipaganti disiapkan buat penginapan. Jumlah partisipan yang muncul dalam konferensi diperkirakan 1. 500 orang. Akomodasi buat 500 wartawan pula diurus. Demi kelancaran transportasi, sebanyak 143 mobil, 30 taksi, 20 bis, dan 230 sopir juga disiapkan.

Pada 7 April 1955 Presiden Sukarno telah melaksanakan pengecekan. Demi menguatkan bukti diri serta semangat, nama Gedung Dana Pensiun diganti jadi gedung Dwiwarna serta Gedung Concordia ditukar jadi Gedung Merdeka.

Kesimpulannya, 29 para pemimpin dari negara- negara Asia serta Afrika juga berkumpul di Bandung. Konferensi dibuka pada 18 April 1955, pas hari ini 64 tahun kemudian, serta dilaksanakan sampai 24 April 1955. Kota Bandung dipenuhi rakyat. Di hari pembukaan KAA, Sukarno membacakan pidatonya,” Ayo Kita Lahirkan Asia Baru serta Afrika Baru”.

” Aku berharap konferensi ini hendak menegaskan realitas, kalau kita, pemimpin- pemimpin Asia serta Afrika, paham kalau Asia serta Afrika cuma bisa jadi sejahtera, apabila mereka bersatu, serta apalagi keamanan segala dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak hendak terjamin. Aku harap konferensi ini hendak membagikan pedoman kepada umat manusia, hendak menampilkan kepada umat manusia jalur yang wajib ditempuhnya buat menggapai keselamatan serta perdamaian,” kata Sukarno.

KAA awal itu kemudian menciptakan Dasasila Bandung. Persamaan derajat, silih menghormati kedaulatan negeri tiap- tiap negeri serta kerja sama antar bangsa jadi perihal berarti dalam Dasasila Bandung tersebut. Dasasila Bandung pula memiliki semangat kemerdekaan. Negara- negara baru di Asia serta Afrika wajib diakui kedaulatannya.

Bersinambung di Non- Blok

Sehabis KAA 1955, peta percaturan politik internasional mulai berganti. Perserikatan Bangsa Bangsa( PBB) bukan lagi jadi forum eksklusif. Di PBB, umumnya negeri Blok Barat serta Blok Timur adu eksistensi. Sehabis KAA, timbul dunia ketiga, serta belum lama timbul Non- Blok.

Negara- negara yang berupaya netral kemudian terus berkonsolidasi. Mereka pula tidak berjuang sendiri. Josip Broz Tito, pemimpin Yugoslavia, satu suara buat tidak bermazab ke Blok Barat ataupun Blok Timur. Sementara itu, Yugoslavia bukanlah terletak di daratan Asia ataupun Afrika. Yugoslavia merupakan negeri kokoh di Balkan kala Perang Dingin.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *